TRUE STORY : Tenzing Norgay

Tenzing Norgay adalah nama orang. Mungkin sebagian dari kita akan mengatakan sebagai nama yang aneh..dan darimana orang itu berasal? Mungkin sebagaian orang ada yang mengenal nama ini atau mungkin juga tidak. Namun bagaimana kalo Sir Edmund Hillary? ya tentu saja semua orang mengenal nama besar beliau.

Sir Edmund Hillary adalah seorang pendaki gunung tertinggi didunia, Puncak Gunung Everest, pertama didunia. Tetapi saat ini kita tidak sedang membahas Sir Edmund Hillary, sebagai pendaki gunung tertinggi pertama di dunia, namun Tenzing Norgay.

Tenzing Norgay adalah seorang penduduk asli Nepal yang bertugas sebagai pemandu jalan bagi pendaki gunung yang berniat untuk mendaki puncak gunung Everest. Tenzing Norgay (Orang Nepal menyebutnya Sherpa) adalah pemandu bagi Sir Edmund Hillary. Pada tanggal 29 Mei 1953 jam 11.30, Tenzing Norgay bersama Sir Edmund Hillary berhasil mendaki puncak gunung Everest, dengan ketinggian 29,028 kaki diatas permukaan laut, dan menjadi orang pertama yang kemudian memberikan inspirasi bagi pendaki-pendaki gunung berikutnya untuk mengikuti prestasi mereka.

Pada rentang waktu 1920 sampai 1952, tujuh tim ekspedisi yang berusaha untuk menaklukkan puncak gunung Everest mengalami kegagalan. Keberhasilan Sir Edmund Hillary pada saat itu sangatlah fenomenal mengingat baru berakhirnya perang dunia II, dan menjadi semacam inspirator untuk meningkatkan kembali kepercayaan diri bagi seluruh dunia.

Karena keberhasilannya Sir Edmund Hillary mendapatkan gelar dari Ratu Inggris yang baru saja dilantik saat itu Ratu Elizabeth II dan menjadi orang yang paling dikenal didunia. Tetapi dibalik keberhasilannya Tenzing Norgay memiliki peranan yang sangat besar, namun mengapa Tenzing Norgay tidak terkenal, dan mendapat semua yang didapat oleh Sir Edmund Hillary? Padahal ia adalah pemandu yang membantu dan mengantarkan Sir Edmund Hillary ke puncak gunung Everest. Seharusnya bisa saja dia yang menginjakkan kaki pertamanya di puncak gunung Everest, bukan Sir Edmund Hillary.

Sesaat setelah Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay kembali dari puncak gunung Everest, semua reporter mengejar dan berebut untuk mewawancarai Sir Edmund Hillary, dan hanya satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay. Berikut petikan dari wawancaranya:

Reporter : “Bagaimana perasaan dengan keberhasilan menaklukkan puncak gunung Everest”

Tenzing Norgay: ” Sangat senang sekali”

Reporter : “Anda kan seorang Sherpa (pemandu) bagi Edmund Hillary, tentu saja posisi anda berada didepannya, bukankah seharusnya anda menjadi orang pertama yang menginjakki puncak gunung Everest?”

Tenzing Norgay : ” Ya, benar. Pada saat tinggal selangkah lagi, saya mempersilakah dia untuk menjejakkan kakinya. dan menjadi orang pertama pendaki gunung Everest.”

Reporter: ” Mengapa anda melakukannya”

Tenzing Norgay : ” Karena itu adalah impiannya, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil mengantar dan membantunya mengapai impiannya”

Ya, demikianlah sekelumit cerita mengenai kisah tentang Tenzing Norgay, yang senang dan dengan iklas membantu seseorang untuk mencapai keberhasilan tanpa memikirkan dirinya sendiri.

~Sungguh luar biasa cerita diatas, Sifat dan sikap yang dimiliki oleh Tenzing Norgay, dengan mementing kepentingan orang lain, tanpa memikirkan imbalan ataupun jasa, tentu saja memberikan semangat tinggi dalam menjunjung nilai rendah hati. Apabila kita dapat berpikir dan bertindak sedemikian rupa, niscaya dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang berjiwa besar dengan pemikiran dan hati yang bijak. Semoga cerita diatas dapat menjadi kan inspirasi bagi kita semua, untuk berusaha dan menjadi teladan bagi semua orang~

Lepaskanlah

Disuatu desa yang dekat dengan pergunungan, tinggallah seorang nenek yang sebatang kara. Dia tinggal sendirian dan hanya ditemanin oleh seekor anjing kecil, sahabat sejatinya. Sehari-hari nenek tua tersebut bercocok tanam di halamannya yang kecil, menanam beraneka macam sayur-sayur sebagai sumber makanannya.

Dia telah lama ditinggal oleh keluarga tercintanya, suaminya telah lama meninggalkannya karena menikah lagi dengan seorang janda kaya. Sedangkan anak semata wayangnya meninggal pada saat berusia 5 tahun akibat terjatuh di sungai tak jauh dari tempat sang nenek tua tinggal. Namun walaupun hidup sebatang kara, nenek tersebut selalu bersikap riang dan tersenyum kepada siapa saja yang ditemuinya, sekalipun dengan anjing ataupun hewan-hewan yang dilihatnya. Dia selalu menyapa setiap orang yang dijumpainya.

Sikap riang dan ramah tersebut membuat semua orang menyukainya, dan memberinya julukan Si Nenek Bijaksana.

Suatu hari, tak jauh dari rumah si nenek bijaksana, terlihat seorang pemuda yang sedang patah hati sambil membawa sebilah pisau tajam yang ditancap2kan ke tanah. Sesekali pemuda itu terlihat duduk diam, dan tak lama kemudian terlihat wajahnya yang kusut memandang kosong ke suatu arah yang tidak jelas.

Melihat pemuda tadi, si nenek bijaksana tahu bahwa pemuda tersebut banyak memiliki masalah dan dia pun mendekatinya. Disapanya ramah si pemuda tersebut:

“Wahai anak muda, kenapa engkau begitu kusut, apa yang menjadi masalah bagi mu? mungkinkah aku dapat membantunya?’ tanya si nenek ramah

Pemuda tadi memandang sang nenek dan seketika kembali memandang suatu arah dengan tatapan kosongnya tanpa menjawab perkataan nenek tersebut sedikit pun

Melihat sikap pemuda tersebut yang tidak mengabaikan kata-katanya, sang nenek pun tersenyum dan diambilnya pisau ditangan sang pemuda dan diukirnya satu kata ditanah tepat didepan sang pemuda. Satu kata tersebut adalah LEPASKANLAH.

Melihat kata tersebut sang pemuda menitikkan air mata, dan menatap sang nenek dengan berkata:

“Saya telah memikirkan masalah ini sampai berapa minggu, dan aku pun berniat untuk bunuh diri karena selalu tidak berhasil mengikuti ujian menjadi seorang pejabat negara walaupun telah aku ikuti berulang-ulang kali, namun satu kata dari mu membuat aku mengerti arti hidup”

“Anak muda, apapun masalah mu, jangan menyiksa dirimu seperti ini. Karena ingatlah apapun masalahmu pasti ada pemecahannya, bila kamu mau berpikir untuk melepaskannya” sahut sang nenek

“Jadikanlah masalah sebagai proses hidupmu, bukan sebagai beban dalam kehidupan mu, karena dengan begitu kita akan dapat menghargai hidup ini dengan sungguh-sungguh” lanjut sang nenek

Sang nenek bijaksana pun menceritakan hidupnya yang sebatang kara namun dapat menikmati hidup ini tanpa merasanya sebagai beban. Sang pemuda yang mendengarkan cerita sang nenek bijaksana pun menyadari masalah yang dihadapinya tidak lah sebesar masalah yang dihadapi sang nenek namun dirinya cepat menyerah dan mengambil jalan pintas untuk memecahkan masalah tersebut.

~Jangan jadikan masalah “kecil” sebagai alasan kita untuk tidak bisa sukses. sering kali kita jumpai dikehidupan sehari-hari, anak muda yang tidak mau melanjutkan sekolah karena tidak lulus ujian disekolah favoritnya, karyawan yang berhenti kerja karena gagal menyesuaikan diri dengan lingkungan kerjanya, dan masalah-masalah “kecil” lainnya yang dijadikan tameng untuk tidak sukses dan putus asa. Ingatlah, “Masalah besar jadikanlah menjadi Masalah kecil, dan masalah kecil anggaplah hilang”. Pola pikir demikianlah, yang menjadikan kita individu yang sukses dengan bijaksana. Jangan terpaku pada satu masalah “kecil”. Lepaskanlah……masih banyak masalah dihidup kita. Jangan jadikan masalah “kecil” sebagai penghalang kesuksesan kita~

Jenderal Kecil Merasa Jadi Raja

Alkisah di negeri Tiongkok kuno, terdapat sebuah kerajaan yang begitu megah, yang dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana. Rakyat-rakyat begitu makmur, dan pajak negara yang bebankan ke mereka pun telah dihapuskan oleh raja, sehingga rakyat sangat memuja raja mereka tersebut.

Didalam kerajaan, terdapat jenderal-jenderal perang pilihan yang begitu gagahnya. Mereka tampak begitu bersahaja dan melindungi bawahannya. Namun dari sekian banyak jenderal perang tersebut, terdapat seorang jenderal perang yang sangat sombong dan congkak. Dia sebenarnya adalah seorang prajurit yang baru saja diangkat menjadi jenderal karena suatu jasa kepada raja. Namun hal itu malah membuatnya menjadi lupa diri dan sombong.

Dia selalu mengeluarkan perintah-perintah yang aneh, dan meminta prajurit-prajuritnya untuk menghormati nya layaknya seorang raja. Setiap bertemu dengan nya, prajurit-prajurit akan menyembahnya dan mengucapkan salam “Wan Xui…Wan Xui…Wan Wan Xui….” (” Panjang Umur..Panjang Umur…Panjang Umur Selama-lamanya”), yang sebenarnya salam itu hanya harus diperuntukkan kepada raja.

“Aku Adalah pimpinan kalian, dan kalian harus mengikuti perintah ku, atau kalian akan mati. Tidak ada ampun buat pembangkang” Sahut Jenderal tersebut kepada prajurit-prajurit mereka

Prajurit-prajurit bawahannya pun merasakan tekanan moral yang sangat besar, dan mereka pun dengan terpaksa mengikuti kemauan si Jenderal. Hal itu membuat jenderal-jenderal senior pun prihatin.

Pada suatu hari seorang jenderal yang paling senior dikerajaan tersebut, bermaksud memberikan petuah kepada jenderal kecil tersebut. Dia pun mengajak jenderal kecil itu untuk pergi ke suatu padang rumput. Dengan perasaan terpaksa, jenderal kecil pun mengikuti jenderal senior tersebut, dan berkata :

“Mengapa engkau mengajak ku kemari, wahai jenderal” sahut jenderal kecil dengan ketus

“Wahai jenderal , saya melihat engkau begitu pesat dalam berkarir dan memiliki wawasan yang sangat luas, aku pun bermaksud ingin mengajak mu untuk berdiskusi sejenak” jawab jenderal senior itu dengan ramah.

“Apa yang hendak engkau diskusi kan, kata kan lah” Kata jenderal kecil tersebut

“Coba kau lihat kadal yang ada di sana, apakah menurut mu kadal dapat terbang seperti burung diatas?” tanya jenderal senior tersebut

“hahahha….pertanyaan bodoh, tentu saja tidak, kadal hewan darat, tentu saja tidak dapat terbang seperti hewan di udara, itu pertanyaan gampang kenapa engkau bertanya seperti itu” Tanya jenderal kecil itu sombong

“Menurut mu apa yang akan terjadi apabila kadal tersebut ingin juga terbang wahai jenderal” tanya jenderal senior itu kembali

“Tentu saja dia akan mati karena akan jatuh ke tanah…., bukan begitu jenderal” sahut jenderal kecil

“Iya…begitu juga lah kita. Sebagai manusia kita pun harus tahu posisi kita, dan apabila kita memaksakan untuk menjadi posisi yang bukan milik kita, kita pun akan “mati” seperti halnya kadal itu bukan” kata jenderal senior itu sambil tersenyum ramah

Seperti disambar petir, sang jenderal kecil pun merasa kesalahannya. Bahwa dia adalah seorang jenderal dan tidak dapat menganggap dirinya sebagai raja, karena apabila hal itu ketahuan raja, tentu saja kematian sudah di depan mata.

~Banyak sekali kita melihat didunia ini, seorang karyawan yang merasa seperti atasan bagi karyawan lainnya, bertindak seenaknya, tanpa menyadari posisi ataupun jabatan mereka. Adalah sangat bijaksana apabila kita mengetahui dan bertanggung jawab atas posisi maupun jabatan kita, dan jangan melebihi wewenang yang bukan menjadi milik kita, karena tentu saja, kita akan “mati” dalam pergaulan kita. Janganlah merasa sebagai raja, apabila kita hanyalah seorang jenderal ataupun prajurit. Dengan bersungguh-sungguh dan bekerja keras dengan penuh tanggun jawab, niscaya posisi itu akan datang sendirinya, tanpa harus kita bertindak layaknya seorang jenderal kecil yang merasa dirinya seorang raja gadungan~

Jadilah Seperti Sebatang Bambu ….

Alkisah disuatu desa yang begitu rindang, yang dipenuhi dengan perpohonan disekitarnya, tumbuhlah sebuah pohon mahoni yang begitu besar, menjulang tinggi seolah-olah ingin memberitahukan dunia betapa kuatnya dia, yang terlihat gagah. Tampak dia begitu memancarkan pesona wibawa bagi siapapun yang melihatnya. Tak jauh dari tempat pohon mahoni itu berada, tumbuhlah sebatang bambu yang mendampingi pohon mahoni tersebut. Namun apabila dilihat dari kasat mata, sungguh suatu pemandangan yang begitu kontras, bagaikan langit dan bumi, pohon mahoni yang begitu gagahnya dengan ranting-ranting besar yang menghiasinya, dan sebatang bambu yang begitu ramping, dengan dahan yang melengkung ke bawah.

Walaupun mereka berbeda, namun mereka selalu hidup berdampingan, sang bambu yang rendah hati selalu menyapa pohon mahoni setiap harinya, mereka berbincang dan berbincang. Pohon mahoni selalu suka menyombongkan dirinya, betapa besar dan hebatnya dia, sang bambu tidak pernah jemuh untuk mendengarkan kesombongan si pohon mahoni sambil tersenyum dia selalu membalasnya dengan pujian dalam ketulushatiannya.

Suatu malam hujan deras menguyur desa tersebut disertai angin yang berhembus dengan kencangnya. Suara gemuruh guntur turut membuat suasana cekam malam hari itu, banyak pohon-pohon bertumbangan, karena tidak kuat menghadapi hembusan angin kencang. Si pohon mahoni dan bambu pun turut terkena terpaan angin kencang, mereka mencoba bertahan dan berusaha untuk tidak tumbang.

Sang pohon mahoni yang panik, berusaha menahan angin kencang tersebut dengan badan nya yang besar. Namun badannya tidak cukup besar untuk menahan laju angin yang begitu kencang, dan akhirnya tumbanglah pohon mahoni tersebut. Sang bambu yang berada disampingnya pun terkena tiupan angin kencang, namun dia tidak menahan deruan angin kencang, dia hanya mengikuti kemana pun arah tiupan anginnya, dengan fleksibelnya dia bergemulai dengan hembusan angin, dan akhirnya angin kencang telah berlalu, sebatang bambu tetap tumbuh dengan indahnya, disamping pohon mahoni yang tumbang akibat terpaan angin kencang.

~Dalam pencapaian sukses, manusia selalu dihadapi oleh realitas masalah yang selalu datang silih berganti. Namun menjadi insan yang sukses harus mampu menghadapi masalah tersebut dengan kefleksibelan diri kita mengikuti dan mengetahui sebenarnya masalah yang sedang kita hadapi dan melakukan penyelesaian dengan fleksibel. Seperti sebatang bambu yang mengikuti terpaan angin dengan fleksibel, begitu juga kita harus menyikapi masalah dan tidak kaku akan satu penyelesaian saja. Karena apabila kita hanya monoton, dan menggangap kita hebat tanpa berusaha fleksibel, dengan memberikan solusi yang sama pada suatu masalah, niscaya kita akan tumbang seperti pohon mahoni yang besar~

Makna Kesempurnaan Hati

Sebuah hati yang masih muda sedang membanggakan dirinya. Dia merasa dia lah hati yang terindah di dunia ini. Tidak ada yang bisa menandinginya. Begitu halus, tanpa celah dan begitu indah. Hati-hati yang lain pun memandang dengan penuh pesona, sambil mengagumi keindahan hati tersebut.

Tiba-tiba datanglah sebuah hati yang sudah begitu tua, dengan penuh bagian yang tidak rata, akibat luka-luka yang mengering di hati tua tersebut. Dia pun berkata:
“Hati mu memang begitu indah hati muda, namun sesungguhnya keindahan hati mu tertentu saja tidak bisa melebihi keindahan diri ku” Kata hati tua kepada hati muda
Hati muda berpikir dia begitu tua, apa yang bisa di banggakan darinya, tidak ada yang istimewa dari hati tua ini. Dia pun berkata:
“Wahai hati tua, engkau penuh dengan luka-luka dan tubuhnya yang tak beraturan, apa yang bisa dibanggakan dari mu, kenapa engkau mengatakan engkau begitu istimewa?” Cibir sang hati muda

“Dengarkanlah hati muda, tubuh mu memang begitu sempurna, namun tahukah engkau darimana asal luka ditubuhku ini? ” tanya si hati tua
“Aku selalu memberikan sebagian kasih ku kepada orang yang memerlukannya dengan memberikan sedikit tubuh ku, dan mereka juga biasanya membalasnya dengan memberikan sedikit tubuhnya untuk aku, makanya aku penuh luka dan tidak teratur”

“Aku selalu memberikan kasih ku tanpa meminta apa pun, kadang yang menerima sedikit dari tubuh ku, tidak membalas dengan membagikan sedikit dari tubuh ku juga, namun aku selalu senang apabila bisa membagikan kasih ku kepada siapa saja yang membutuhkan”

Mendengar hal tersebut, si hati muda pun menyobek sedikit tubuhnya dan dibagikan kepada si hati tua, dan hati tua pun menerima dengan memberikan sedikit bagian tubuhnya juga. mereka tersenyum dan merasakan kebahagiaan bersama
“Walaupun sekarang tubuh ku sudah tidak sempurna lagi, namun aku merasakan betapa berharga diri ku sekarang, dengan berbagi kasih, terima kasih hati tua” ujar sang hati muda

~Kadangkala sifat egois, memenjarakan untuk menjadi makhluk individual, mementingkan diri sendiri, tanpa memikirkan sekitar kita, namun tanpa kasih, hidup kita tidak akan memiliki makna lebih, tanpa kasih kita hanya hidup dalam keterikatan manusiawi. Mulailah berbagi kasih dengan siapapun, tanpa mengharapkan pamrih apapun. Maka kasih-kasih yang tulus akan segera menghampiri anda dan kebahagiaan anda~

Mengapai Kebahagiaan

Nun Jauh di sana, bertahun-tahun yang silam, di sebuah kota kecil di India kuno, terlihatlah seorang pemuda sedang duduk termenung dekat sebuah taman, raut wajahnya penuh dengan ketidakbahagiaan, penuh kesal, dan mulutnya tak berhenti-henti mengeluarkan suara-suara keputusasaan.

Tak jauh dari tempat pemuda tadi, terlihat seorang kakek yang lanjut usia, sedang mendatangi pemuda tadi, melihat wajah pemuda yang begitu acuh akan kehadirannya, bertanya lah dia:
“Apa yang sedang kamu pikirkan wahai pemuda, kenapa aku melihat wajah mu penuh dengan kekesalan?”
“Dimanakah aku harus mencari kebahagiaan, kenapa aku tidak dapat menemukannya?” Jawab pemuda tadi tanpa menoleh ke sang kakek yang lanjut usia
“Oh…kalo kamu ingin mendapatkan kebahagiaan, tangkaplah capung yang berterbangan di taman disamping mu itu, dan bawalah kepada ku, maka akan aku beri jawaban mengenai kebahagiaan setelah itu” sahut kakek tersebut

Dengan wajah malas, dan langkah gontai, diikuti permintaan kakek tersebut, pergilah pemuda tadi ke taman tersebut, dan mulailah dia menangkap capung yang diminta sang kakek, namun sudah sekian lama mencari capung tersebut, tidak satupun capung yang dia dapatkan . Dia pun mulai berusaha dengan keras, berlari kesana kemari, tanpa tentu arah, di tabraknya rumput-rumput yang menghalanginya, dengan nafas yang terengah-engah, dia terus menangkap tanpa memperdulikan apapun yang ada didepannya, namun tetap saja tidak ada capung didapatnya.

Sang kakek yang memperhatikannya dari jauh, langsung mendekatinya, dengan tersenyum dia pun berkata :
“Begitukah engkau ingin mendapatkan kebahagiaan? dengan berlari tanpa tentu arah, menabrak apapun yang ada didepanmu, merusak rumput-rumput dan membuat capung-capung itu menjauhi mu? ”
“Anak muda, mencari kebahagiaan sama dengan menangkap capung, semakin engkau ingin meraihnya, semakin dia menjauhi mu, ingat kebahagiaan itu bukan benda yang berwujud, dan bukan untuk dimiliki, kebahagiaan hanya bisa dirasa oleh hati” Lanjut sang kakek

Sang kakek pun mendekati taman dan tanpa susah payah ditangkap sebuah capung dari taman tersebut
“Untuk mendapatkan kebahagiaan, harus menggunakan hati. Dengan hati yang bersih, maka kebahagiaan akan datang dengan sendirinya. Selama hati mu penuh dengan ambisi untuk mendapatkan kebahagiaan, sesungguhnya kebahagiaan itu sendiri dengan sendirinya akan menjauh dari dirimu, mengertikan engkau anak muda” kata kakek tersebut sambil tersenyum kepada pemuda tadi
“terima kasih kek, aku telah mengerti” Sahut pemuda tadi dengan wajah yang riang

~Kebahagiaan bukanlah target yang harus kita capai, namun kebahagiaan adalah buah dari perbuatan baik kita. Dengan hati yang tulus dan menghargai semua proses hidup yang kita lalui dengan suka cita, niscaya kebahagiaan sudah adalah dalam diri kita. Namun seperti menangkap capung, semakin kita berlari tanpa arah, dengan ambisi untuk mendapatkan kebahagiaan, maka kebahagiaan akan menjauh dari kita. Jangan hanya bisa mengeluh, namun hargailah waktu kita sekarang ini, karena kebahagiaan akan menjadi milik orang yang menghargai hidup ~

Kisah Kalung Mutiara Plastik

Alkisah dicerita di jaman tiongkok kuno, terlihat seorang anak kecil bernama xing-xing, sedang berada disuatu pasar yang ramai bersama ibunya. Satu persatu jalan dipasar itu dilewati mereka untuk mencari barang-barang kebutuhan mereka. Tepat di sebuah toko perhiasan, xing-xing melihat sebuah kalung mutiara plastik yang begitu indahnya, timbul keinginan untuk mendapatkannya, dan dia pun merengek untuk dibelikan oleh ibunya.

“Ibu, boleh kah aku meminta kalung mutiara itu? belikan untuk ku ibu, dan aku akan mengikuti apapun perkataan ibu” sahutnya merengek
“Xing-xing kalung itu harganya tidak murah, namun ibu akan membelikannya untuk mu, namun berjanjilah, setiba kamu dirumah, kamu harus membantu ibu bekerja, kamu setuju” jawab ibunya
“Baik ibu” sahut xing-xing cepat

Sesampainya dirumah, xing-xing pun mengerjakan semua permintaan ibunya, untuk membantunya membereskan rumah. Setelah selesai membantu ibu nya bekerja, xing-xing pun memakai kalung mutiara plastik itu pemberian ibunya, begitu senangnya dia, sehingga setiap hari dia selalu memakai kalung itu kemana saja.

Hari pun berlalu, dan xing-xing masih saja menggunakan kalung plastik tersebut, ibunya pun mendekatinya dan berkata
“Xing-xing, beberapa bulan ini, kalung mutiara plastik itu selalu menemani mu, boleh kah bila ibu memintanya?” tanya ibu nya
“Jangan ibu, aku sangat menyukainya, aku mohon” sahut xing-xing begitu cemas
“Baiklah ibu tidak akan memintanya” kata ibunya tersenyum

Esoknya ibunya pun kembali meminta kalung mutiara itu kepada anaknya, namun sama saja jawaban dari xing-xing, menolaknya dan menolaknya, namun ibunya selalu tersenyum mendengar jawaban sang anak.

Pada suatu hari, tanpa sengaja xing-xing merusak kalungnya, sehingga dengan sedihnya dia melihati kalungnya yang telah rusak sambil menanggis, dengan tanggisan xing-xing ibunya pun mendekatinya
“Kenapa xing-xing kamu menanggis”
“Kalung ku rusak oleh kecerobohan ku bu, aku sedih sekali” sahut xing-xing sambil terisak-isak menahan tanggisannya
Ibunya pun mendekat, dan dibelainya xing-xing sambil berkata
“Tahukah kamu kenapa ibu selalu meminta kalung mu?”Tanya sang ibu
“Tidak bu” jawab xing-xing singkat
“Ibu tidak mau kamu terlalu senang dengan kalung itu, sehingga kamu menjadi terikat dengan kalung yang kamu miliki” kata ibunya
“Bila kamu terlalu terikat dengan sesuatu dan puas dengan apa yang kamu miliki sekarang, kamu akan malas untuk berusaha mendapatkan yang lebih baik lagi, berhenti belajar, dan kamu akan menjadi katak dalam tempurung”
“Ingatlah itu sebagai pedoman diwaktu kamu dewasa nanti” kata sang ibu sambil menyerahkan sebuah kantong yang berisikan kalung permata asli.
“Ibu telah menyiapkan kalung ini untuk ditukar dengan kalung mu yang lama, namun kamu selalu menolak nya bukan, jadikan lah ini sebagai pedoman hidup mu xing-xing”sahut ibunya sambil membelai xing-xing
“Terima kasih ibu, aku mengerti sekarang. Aku akan selalu berusaha menjadi lebih baik, dan tidak cepat puas dengan apa yang aku miliki sekarang” sahut xing-xing dengan gembira mendapatkan kalung permata asli

~Kadang kita terlalu takut untuk menyerahkan apa yang kita miliki sekarang, untuk mendapatkan hal yang lebih baik. Kita suka terlarut dengan keadaan yang kita miliki, dan menganggapnya sebagai nasib. Seperti pepatah china yang mengatakan “Melepas ikan kecil untuk mendapatkan ikan besar”, haruslah kita bertindak sedemikian, untuk selalu mencoba hal yang lebih besar, dengan perencanaan yang tepat, dan berani melepaskan hal yang kecil yang kita punya, untuk mendapatkan hasil yang lebih dahsyat. Maka kita akan menjadi orang besar yang sukses~
 

© Copyright Bersemangat Setiap Hari . All Rights Reserved.

Designed by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine

Blogger Template created by Deluxe Templates