Waktu terbaik

Waktu terbaik untuk menanam sebuah pohon adalah dua puluh tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua, adalah mulai hari ini. (Chinese wisdom )

Pohon tumbuh dan besar setelah melewati waktu yang tidak sedikit. Pohon produktif dan berbatang kayu keras memerlukan waktu hingga puluhan tahun agar dapat tegak menjulang dengan rindang. Sehingga dapat menaungi pohon kecil lain atau manusia dan hewan yang memerlukannya. Akar yang menghujam dalam ke tanah dapat menahan air tanpa menimbulkan banjir, dahan dan daun yang diatas dapat memberi kesejukan bagi makhluk hidup lain dan jika diperlukan batangnya dapat menjadi tempat berlindung dalam bentuk rumah. Jika diibaratkan kebajikan yang ditanam di kehidupan ini, tak perlu menyesali hari tanpa kebajikan yang telah lewat. Tanamlah kebajikan mulai hari ini juga dan tiada henti di hari-hari mendatang.



Fikri C. Wardana

Kakak Seperti itu

 

Teman saya bernama Paul menerima sebuah mobil dari kakaknya sebagai hadiahnya. Pada suatu malam ketika Paul keluar dari kantornya, seorang anak miskin sedang berjalan mengelilingi mobil baru yang mengkilap, mengaguminya.

"Apakah ini mobilmu, Pak?" tanyanya.

Paul mengangguk. "Kakakku memberikannya sebagai hadiah Ulang Tahunku".

Anak itu kaget. "Maksudnya kakamu memberikan mobil itu dan kau tidak membayarnya?

Astaga, aku harap..." Dia ragu-ragu.

Tentu saja Paul tahu apa yang dia ucapkan. Dia akan berharap memiliki kakak seperti itu. Tetapi yang dikatakannya sangat mengejutkan Paul. "Aku harap", anak itu meneruskan, "aku bisa menjadi kakak seperti itu.

Paul memandang anak itu dengan heran, lalu menurutkan kata hatinya, Paul menambahkan, "Maukah kau menumpang mobilku?". "Oh ya aku mau."

Setelah perjalanan singkat, anak itu menoleh dan dengan mata bersinar, berkata, "Pak, maukah kau mengantarku kedepan rumahku?". Paul tersenyum kecil. Dia berpikir dia tahu apa keinginan anak itu. Dia ingin menunjuk kan bahwa dia dapat menumpang dalam sebuah mobil besar. Tetapi Paul salah lagi.

"Maukah kau berhenti ditangga itu?" tanyak anak itu. Dia berlari ketangga. Tidak lama kemudian, Paul mendengar dia kembali tapi dia tidak tergesa-gesa. Dia menggendong adik kecilnya yang pincang. Dia mendudukkannya di tangga bawah, lalu merangkulnya dan menunjuk mobil itu.

"Ini dia seperti yang kukatakan diatas. Kakaknya memberikannya untuk hadiah Ulang Tahunnya dan dia tidak membayar sesen pun. Dan suatu hari nanti aku akan memberikanmu sebuah mobil seperti itu...sehingga kau dapat melihat hal-hal yang indah di jendela seperti yang kuceritakan padamu.

Paul bangkit dan mengendong anak itu ke tempat duduk depan di mobilnya. Kakaknya duduk disebelahnya dan mereka bertiga mengalami perjalanan liburan yang mengesankan. Saat itu Paul belajar apa yang dimaksudkan, "Memberi lebih diberkati...".

 

MENUNGGANG HARIMAU

 
MENUNGGANG HARIMAU

Seorang pemuda dengan susah payah akhirnya berhasil mendaki hingga ke puncak gunung. Tatkala ia baru mau duduk menikmati jerih payahnya, ia dikagetkan oleh munculnya seekor harimau besar. Seketika ia melompat memanjat ke atas pohon untuk menyelamatkan diri. Namun saking tegang karena ketakutan, ia kehilangan kesimbangan, keplanting ke bawah, jatuh tepat di atas punggung harimau!

Harimau yang terkejut langsung berlari dengan kencang. Si pemuda yang tidak punya pilihan, memeluk erat-erat leher harimau!

Semua orang yang melihat harimau yang berlari kencang dengan pemuda di atas punggung, memuji habis: "Wah, hebat sekali pemuda itu!" Namun si pemuda justeru sedang ketakutan hingga mau pingsan. Ia begitu bingung, mau terus menunggang harimau, salah. Mau lompat turun salah juga.

Begitulah dengan kehidupan ini. Decak kagum di mata banyak orang boleh jadi adalah kekhawatiran dan kecemasan berkepanjangan dalam hidup Anda.

Dengan perjuangan susah payah, Anda meraih kekayaan, jabatan dan popularitas, namun setelah itu mulai muncul kekhawatiran, kecemasan bahkan ketakutan akan kehilangan semua yang telah Anda raih!

Di mata orang, hidup Anda penuh kebahagiaan dan kepuasan, namun di hati Anda, Anda merintih, namun tak ada yang memahami!

Pepatah: Jangan hanya melihat keindahan di luar, tapi pahamilah fakta yang ada di dalam…. Kadang indah di luar, pahit di dalam.

Always eager to achieve happiness in life together in peace


Hadi Poernomo

Harmoni yang merdu

 
Smart Touching The Human Wisdom‎​ (Peter MBA) :

Seorang tua yang tak berpendidikan untuk pertama kali mengunjungi anaknya di kota besar yang modern. Suatu ketika ia dibawa mengelilingi kota, ia mendengar suara yang bising yang membuat telinganya tidak nyaman, lalu ia mencari cari sumber kebisingan itu dan ternyata ia melihat anak anak yang sedang belajar bermain biola.

Sejak saat itu ia berharap untuk tidak mendengar suara benda yang mengerikan itu. Lalu ia pun pergi dan mendengar lagi suara tapi suara kali ini cukup indah didengar di telinganya, lalu ia mencari lagi sumber suara itu dan ternyata ada seorang maestro yang sedang memainkan sebuah biola, saat itu orang tua itupun sadar akan kekeliruannya, yang salah bukanlah biolanya tetapi orang yang memainkannya itulah yang memegang peranan. Seperti halnya Agama, ketika seseorang berbuat jahat, bukan agama yang dianut yangg salah tapi diri orang itulah yangg salah.

Esok harinya orang tua itu mendengar lagi suara merdu melebihi suara sang maestro dan ternyata itu adalah sebuah orkestra besar dengan bermacam-macam alat musik dengan orang-orang yang berbeda-beda yang memainkan sebuah simfoni yang indah....

Itulah Agama yang sebenarnya, semua bertujuan untuk menciptakan sebuah keindahan dalam hidup.

Marilah kita menjadi maestro cinta kasih di dalam agama masing-masing, saling menghargai, bermain dan belajar seperti halnya orkestra bersama-sama dengan penganut lain dalam menciptakan sebuah HARMONI yang merdu....



Liman

KESABARAN

 

Saya ini sulit bersabar.
Saya pemarah berat.
Kayaknya tidak mungkin bisa bersabar.
Bagaimana ini, Pak?

 Begini, seandainya Anda sedang duduk di warung, tiba-tiba ada orang menumpahkan kopi panas ke pangkuan Anda, apakah Anda marah & memukulnya?

Ya.


Akan bersabar?

Tidak!


Kalau dia datang dengan 18 rekannya yang berambut cepak alias bodyguard?!

Ya, saya terpaksa bersabar.


Jadi, kesabaran itu bukan sifat,
tapi keputusan.


Kesabaran bukanlah sifat,
tapi sebuah akibat.


Jika Anda sepenuhnya menyadari kerugian yang bisa disebabkan oleh reaksi yang ceroboh dan berlebihan dalam kemarahan, Anda bisa menjadi berhati-hati dalam bereaksi terhadap apapun yang membuat Anda merasa marah.


Kehati-hatian dalam bereaksi terhadap yang membuat Anda marah itulah yang menjadikan Anda tampil sabar.


Sabar adalah biaya kebahagiaan.
Jika Anda ingin hidup berlimpah kebahagiaan, belajarlah bersabar, terutama dalam lingkungan keluarga & sekitar Anda.


Awasilah mulutku, ya TUHAN berjagalah pada pintu bibirku - Mazmur 141:3

Hari ini kita mau belajar agar setiap perkataan yang keluar adalah perkataan yang baik dan tidak melukai orang lain.

Biarlah perkataan kita dapat menjadi berkat baik bagi diri sendiri dan terutama bagi orang lain.


"Ayo mulai saat ini mulutmu bukan lagi harimaumu, tapi mulutmu adalah berkatmu"


Manusia yang hebat adalah manusia yang bisa megendalikan diri disaat dikuasai amarah, tenang di saat di permalukan, tersenyum di saat di remehkan, bersabar disaat menemui cobaan, dan bersyukur untuk semua yang di milikinya.

‎​
 Always eager to achieve happiness in life together in peace


Hadi Poernomo

Don't judge a book by its cover

Cerita ini diadopsi dan dimodifikasi dari Buku Stephen R. Covey. 'Seven Habits of Highly Effective People'.
Dalam suatu perjalanan, kereta api memperlambat lajunya dan berhenti di suatu stasiun.
Naiklah seorang ibu dengan 2 anaknya yang masih kecil-kecil ke dalam salah satu gerbong.

Penumpang sudah cukup padat. Beruntung sang ibu dan kedua anaknya bisa mendapatkan tempat duduk.

Awalnya kedua anak kecil itu duduk tenang.
Tak lama kemudian,
mereka mulai berlarian sambil berteriak-teriak.

Mereka juga naik ke tempat duduk,menarik bacaan para penumpang.
Keduanya membuat suasana jadi gaduh dan tidak nyaman.

Setelah cukup lama menahan diri, seorang bapak yang duduk di sebelah sang ibu menegur, "Kenapa anda membiarkan saja kedua anak anda membuat ribut dan mengganggu seisi gerbong?"

Seakan baru tersadar,
sang ibu menjawab perlahan, "Saya masih bingung bagaimana menjelaskan kepada mereka begitu kami sampai di RS untuk menjemput jenasah ayahnya."

Ternyata sang ibu mendapat pemberitahuan bahwa suaminya sudah menjadi jasad di RS karena meninggal dalam kecelakaan.
Dia sekarang dalam perjalanan dengan anak-anaknya ke RS.

Seketika si bapak yang bertanya terdiam. Segera dari mulut ke kuping tersebar informasi tersebut dan
semua penumpang yang tadinya merasa terganggu, berganti iba dan simpati.

Alih-alih marah kepada anak-anak yang gaduh dan ibunya yang terlihat cuek, sebagian penumpang malah mulai ikut bermain dan bercanda dengan kedua anak itu.

Setelah mengetahui lengkap/persis apa yang terjadi, reaksi penumpang berbalik 180 derajat.

Demikianlah dalam kehidupan. Mengetahui lengkap dibanding hanya sebagian, sangat mungkin membuat perbedaan respon seseorang terhadap suatu masalah/kejadian.

Di saat anda mau marah,
jika memungkinkan,
cobalah tahan sejenak dan cari tahu lebih banyak.
Dengan tambahan informasi, mungkin kemarahan anda jadi batal sehingga tidak muncul penyesalan kemudian.

Don't judge a book by its cover...

Harimau dan Prajurit

Alkisah, di sebuah kerajaan, sang raja mempunyai kegemaran yang tidak lazim, yakni mengukur kekuatan prajuritnya dengan cara mengadu mereka di arena aduan dengan binatang buas yang kelaparan. Banyak tentara yang mati sia-sia karena kesenangan yang mengerikan dari raja mereka. Tetapi, tidak ada seorang pun yang berani menentangnya. Karena, menentang perintah raja berarti mati! Maka setiap kali hari aduan tiba, pasti akan ada korban meninggal di sana.

Suatu ketika, hari aduan kembali tiba. Telah disiapkan seorang prajurit dan seekor harimau yang sedang kelaparan. Dari kejauhan, terdengar suara raungan marah dan kelaparan si harimau sehingga membuat siapa pun yang mendengar menjadi ciut nyalinya, apalagi si prajurit yang akan diadu. Sang prajurit pun hanya bisa berusaha mempersiapkan dirinya sebaik mungkin agar ia tak sekadar jadi mangsa empuk si harimau lapar.

Setelah sang raja duduk di tempatnya, si prajurit pun melangkah memasuki arena aduan dengan kepasrahan sembari berdoa, siapa tahu keberuntungan memihaknya hingga tak perlu meregang nyawa. Tak berapa lama, pintu kandang harimau pun dibuka. Segera si harimau mengaum sambil melangkahkan kakinya masuk ke arena dengan sikap waspada.

Beberapa saat, aroma ketegangan pun menghiasi suasana. Si prajurit segera menyiapkan diri untuk mempertahankan diri dari serangan harimau. Namun, sebuah keanehan terjadi. Harimau yang terlihat ganas bukannya segera menyerang dan siap memakan mangsanya, tetapi dia malah berputar mengendus-endus mengitari si prajurit tanpa menunjukkan sikap bermusuhan sama sekali.

Anehnya lagi, harimau justru berusaha mendekat ke prajurit yang tadi sudah siap melawan harimau. Prajurit makin terheran dengan tindakan harimau yang lantas menjulurkan lidahnya dan menjilat kaki si prajurit tanpa bermaksud menyakiti sedikit pun. Arena aduan pun menjadi heboh.

Raja segera memerintahkan membawa si prajurit ke hadapannya. "Hai prajurit! Apa yang telah kamu lakukan kepada harimau kelaparan itu sehingga dia tidak melahapmu, malah seakan dia tunduk dan menghormatimu? Ilmu apa gerangan yang kamu pakai? Segera beritahu rajamu ini," perintah sang raja.

"Ampun baginda. Hamba juga tidak mengerti apa yang terjadi. Hamba hanya pasrah sembari bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang terjadi. Tetapi, setelah melihat harimau yang tiba-tiba mendekati tanpa terlihat ingin menyerang, hamba juga segera menghentikan niat hamba mempertahankan diri.

Saat itu, kemudian hamba teringat sebuah peristiwa. Dahulu sekali, hamba pernah menyelamatkan dan mengobati seekor harimau kecil yang sedang diburu dan terluka. Dan sangat mungkin, harimau kecil itu adalah harimau yang sama yang ada di arena tadi. Kebaikan masa lalu yang telah hamba perbuat dan tidak pernah hamba ingat, ternyata telah menyelamatkan hidup hamba hari ini."


Pembaca yang luar biasa,

Kisah di atas adalah gambaran nyata dari pepatah "kita menuai apa yang kita tanam." Dan, meski cerita tadi sulit dipercaya, tetapi peristiwa semacam itu bisa terjadi di kehidupan nyata. Semua hal tersebut berhubungan dengan hukum universal tentang sebab akibat. Walaupun kita telah lupa pernah berbuat baik kepada orang lain, tetapi hukum Tuhan tidak akan lupa. Kita pasti akan menerima kebaikan-kebaikan yang sepadan, bahkan melebihi apa yang pernah kita lakukan.

Begitu juga sebaliknya. Kita boleh saja lupa pernah berbuat jahat pada orang lain. Namun, bila saatnya telah tiba, kita pasti akan menerima ganjaran yang setimpal dengan perbuatan kita. Hal tersebut sejalan dengan keyakinan dan ajaran yang harus kita praktikkan, yaitu menjauhkan diri dari berbuat kejahatan yang merugikan orang lain dan selalu berbuat baik dan membantu sesama makhluk.

Untuk itu, mari terus menanamkan benih kebaikan di setiap kesempatan yang ada, baik pada lingkungan terdekat kita maupun pada sesama. Niscaya, kita akan mampu menjalani hidup dengan penuh kedamaian, kebahagiaan, dan keharmonisan.


Penulis : Andrie Wongso
 

© Copyright Bersemangat Setiap Hari . All Rights Reserved.

Designed by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine

Blogger Template created by Deluxe Templates